KSATRIAN PANDU TRISULA

Kontemplasi dalam hegemoni ideologi

cropped-10549062_1506762376226340_1557364535399404984_o-e1455070032583.pngIdeologi disini lebih cenderung pada kedaulatan manusia secara individu. Tanpa ada pemaksaan-pemaksaan, baik dalam skala pertemanan sampai dengan skala bernegara.

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai pandangan ideologinya sendiri-sendiri. Tidak terbatasi dengan apapun. Itu memang salah satu kedaulatan tiap-tiap manusia. Terlepas dari benar-salahnya satu ideologi yang dianut – karena hal ini saga subjektif dan situasional – ideologi memang sangat kuat dalam membentuk pola pikir, jika kita membawa pengertian ideologi dalam ranah yang lebih luas batasannya-pun akan menjadi semakin sedikit.

Dalam kesadaran kita pasti mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang unik satu dengan lainnya. Bahkan jika hidup dengan variabel-variabel eksternal yang sama, outpunya masing-masing manusia pasti beda-beda. Output yang berbeda tentunya juga didasari oleh ideologi yang berdeda pula, meskipun ideologi dasarnya sama tetapi manusia mempunyai kemerdekaan mengembangkan ideologinya sendiri-sendiri yang akhirnya menghasilkan subversi dari ideologi diatasnya.

Dihubungkan dengan konteks kehidupan berorganisasi, pemahaman semacam ini menjadi sangat krusial. Beberapa tahun ini terlihat organisasi-organisasi yang tidak mempunyai rujukan ideologi yang jelas – dalam tahap ini muali diperhatikan benar-salahnya ideologi, itu-pun masih masih sangat subjektif, tergantung situasi dan daya gunanya. Ketidakjelasan ideologi ini akan berimbas pada berbagai aspek. Dari organisasi itu sendiri jalannya akan sangat tidak jelas, tidak jelas melihat jalan atau yang paling parah sudah jelas jalannya tetapi enggan melalui jalan tersebut. Sedikit menyakiti akal memang.

Organisasi sudah dipastikan berisi banyak kepala, satu kepala saja isinya sudah sangat banyak. Ideologi-ideologi akan bertebaran dengan bebas. Memang tidak semua keluar secara verbal, melainkan bisa melalui jalur tindakan nyata. Bagi yang tidak memahami, mungkin ini yang diartikan sebagai ‘pemberontakan’ dalam organisasi. Organisasi tanpa hegemoni ideologi tidak jauh berbeda dengan perkumpulan penggosip-penggosip sekitaran kompleks perumahan. Karena memang yang dibicarakan dalam kehidupan organisasi tidak jelas, tidak berwajah dan belum bisa dipertanggungjawabkan. Satir? Memang seperti itu yang terjadi.

Membahas ideologi lebih tepat jika menggunakan sudut pandang kualitatif, meskipun kuantitatif tidak salah juga. Dalam falsafah Jawa misalnya, kebanyakan menganut kualitatif, jika ada yang menggunakan kuantitatif makan yang dihitung tetap saja kualitatifnya.

Kehadiran Pandu Trisula ingin mengubah itu. Penekanan terhadap nilai dikedepankan dan mengurangi ‘porsi’ materiil hingga diperoleh komposisi yang seimbang – baik dalam organisasi maupun individu. Pandu Trisula sejatinya hanyalah sebut nama, nama dari aktivitas kontemplasi terhadap fenomena-fenomena sosial sekitarnya yang langkah strategisnya adalah Pramuka. Jadi Pandu Trisula bukanlah objek, melainkan kata kerja.

#sekar-jagat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *