KSATRIAN PANDU TRISULA

Pandu Trisula yang “Melebar”

IMG_20150404_101410

Pramuka merupakan organisasi kepanduan. Organisasi kepanduan sendiri sudah ada semenjak era perang dunia pertama. Gerakan ini diprakarsai olah Baden Powell. Beliau mengajarkan materi-materi scout-rover guna membentuk karakter-karakter para pemuda. Pada mulanya di Indonesia banyak sekali organisasi-organisasi kepanduan yang akhirnya dijadikan satu organisasi induk, yaitu Gerakan Pramuka.

Lantas masihkah Pramuka relevan dengan masa kini. Jika ditarik garis lebih spesifik lagi, masihkah Pramuka kompatibel dengan kebutuhan pembentukan karakter mahasiswa.

Sering kita dengan istilah-istilah yang berkaitan dengan pembentukan karakter. Karakter seperti apa? Hal ini harus dikerucutkan lagi. Jika hanya karakter, maka persepsinya bisa sangat luas dan sangat mudah untuk dipelintir-pelintir. Karakter merupakan sifat, watak, atau tabiat. Banyak faktor yang dapat membentuk karakter, salah satunya adalah lingkungan, bisa lingkungan keluarga, pertemanan, organisasi, dll.

Dari sedikit uraian tersebut maka sangat perlu membangun lingkungan dikalangan mahasiswa – baik itu lingkungan pertemanan sampai dengan lingkungan organisasi – yang dapat membentuk karakter positif pada mahasiswa. Hal ini sangat diperlukan karena dalam lingkungan apapun – dalam skala kecil pertemanan hingga dalam skala besar nasional – banyak ‘kewajaran-kewajaran’ yang sangat dipaksakan dan sebenarnya menyalahi aturan, yang lebih miris adalah kewajaran tersebut sudah memasuki ranah hukum positif. Jika hukum positif sudah dapat dipaksakan kewajaran yang tersebut maka akan sangat mudah jika kewajaran tersebut dipaksakan dalam hukum-hukum tidak tertulis. ‘Kewajaran’ tersebut merupakan budaya-budaya (atau lebih tepatnya kebiasaan) buruk yang memaksakan sesuatu tidak pada tempatnya dan cenderung melukai akal sehat manusia. Seharusnya untuk menajdi Pegawai Negeri Sipil ya harus mengikuti tahapan dan seleksi yang ditentukan, tetapi nyatanya banyak juga yang ‘membeli’ posisi tersebut, tahapan tes hanyalah sebagai syarat ketidakenakan dilihat publik. Hal ini sudah menjadi rahasia umum dan sudah dikategorikan sebagai ‘wajar’. Kebiasaan tersebut sudah mengindikasikan bahwa karakter pelaku-pelakunya sudah tidak sehat lagi, bahkan bisa di kategorikan buruk.

Dalam kepanduan, khususnya Pramuka – jika ditilik lebih dalam – bertujuan membentuk karakter positif yang implementatif. Tidak hanya sekedar konsep. Latihan-latihan yang mengutamakan solidaritas dan tenggang rasa nyatanya tak cukup sampai merasuk pada tiap-tiap pelakunya. Tetapi minimal ada – entah sedikit atau banyak – tertanam dalam benak mereka konsep-konsep karakter positif seperti yang diharapkan.

Pada taraf ini Pandu Trisula sengaja membawa pendidikan karakter pada level spiritual. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa. Karena pada dasarnya tidak ada satu entitas-pun di dunia ini yang terlepas dari agama. Pandu trisula mengajarkan bahwa manusia untuk diakui sebagai manusia haruslah memanusiakan manusia. Memperdalam sifat-sifat kemanusiaanya dan memandang apapun fenomena yang dijumpai dengan indra kita (pada beberapa orang bisa lebih) dengan berbagai sudut pandang pemikiran. Diskusi-diskusi yang alot nyatanya dapat memperkaya sudut pandang kita dalam menilai berbagai fenomena. Bahkan sistem diskusi yang dijalankan tak selalu mengenai mufakat, ada beberapa hal yang memang diskusi hanya sebatas berbagi sudut pandang, bukan pada ranah ‘menghakimi’ tiap sudut pandang individu. Pada area ini kedaulatan individu benar-benar maksimal. Tiap orang bebas menyimpulkan masing-masing dari pembahasan berbagai sudut pandang. Hal ini tentu saja tidak bisa diterapkan jika itu menyangkut langkah strategis, taktis dan teknis organisasi.

Dari terdeklarasinya kelahiran Pandu Trisula, memang sejak awal kami tidak bisa terlepas dari alam. Hutan dan gunung ibarat ibu dan langit ibarat ayah. Hutan-gunung yang mengajari kita hal-hal penting, ibaratkan ibu yang dengan sadar mengajari anak-anaknya dan langit bagaikan ayah yang dengan tegas menegur kita jika kita salah. Itu hanyalah salah satu sudut pandang filofisnya saja. Jika diurakan akan melebar ke mana-mana.

Lantas dengan pemikiran seperti itu, karakter seperti apa yang ditanamkan Pandu Trisula? Pertanyaan ini tak jarang berada dibenak masing-masing anggota. memang menjadi sangat luas implikasinya. Di sini saya dapat menyimpulkan jalan pintasnya, bahwa karakter positif – yang juga sedang menjadi tren di dunia pendidikan – mustahil tercapai jika pelaku-pelakunya tidak mempunyai kesadaran sebagai manusia. Istilahnya memanusiakan manusia. Dengan menggenggam erat nilai-nilai kemanusiaan bukan hal sulit untuk menciptakan karakter-kerakter positif dalam individu-individu mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *