KSATRIAN PANDU TRISULA

Kepemimpinan modern VS kepemimpinan tradisional

Dalam tipe kepemimpinan saya membagi ini dalam dua aliran besar. Yaitu kepemimpinan tradisional dan kepemimpinan modern. Ada perbedaan yang sangat mencolok antara kedua tipe ini. Dalam sudut pandang pebagian tugas, kepemimpinan modern cenderung mengandalkan job description sedangkan pada kepemimpinan tradisional mengandalkan tenggang rasa atau pengertian. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kepemimpinan modern yang berorientasi pada pembagian tugas mempunyai kecenderungan menciptakan generasi yang mati kreativitasnya, generasi idem, generasi yang tidak peka dengan lingkungannya, generasi yang apatis. Orang yang sudah diberikan job tertentu akan berorientasi pada pekerjaanya sendiri tanpa memperdulikan pembagian beban kerjanya. Ah, yang penting kerjaanku beres (dengan kata lain: bodoh amat dengan orang lain).
Kepemimpinan tradisional dapat melatih sisi kemanusiaan kita lebih baik daripada tipe kepemimpinan modern. Dalam contoh kasus misalnya para mahasiswa yang sedang KKN – yang biasanya ngumpul di salah satu rumah warga – mau tidak mau akan berhadapan dengan urusan-urusan rumah tangga. Mulai dari urusan masak, cuci piring, bersih-bersih. Tentu mereka akan mengalami hal-hal sepele seperti ini. Dalam cara organisasi tradisional – kepemimpinan tradisional – mereka akan bisa tahu diri. Oh, ini lantai kotor ada inisiatif untuk nyapu. Selesai makan ada salah seorang atau beberapa yang inisiatif untuk nyuci piring. Disini pemikiran mereka berkembang dan orang bisa peka dengan keadaan sekitarnya dan dia tahu harus berbuat apa. Kepekaan sosial mereka terlatih, biasanya mereka melakukan hal semacam ini dengan suka rela – ya minimal nggak enak dengan lingkungan. Tapi bukan berarti model seperti ini tanpa cacar, pada fenomena tersebut akan ada peluang sangat besar untuk ‘njagakne’, ketika tahu lantai kotor akan ada pemikiran, ah ntar juga ada yang nyapu. Ketika selesai makan bersama, ah nanti juga ada yang nyuci piring. Didisi kepemimpinan modern diperlukan. Yaitu organisir pembagian tugas.
Dari segi pemimpinnya sendiri, pemimpin modern minimal hanya dituntut bisa mengatur pembagian tugas saja. Jika ada permasalahan dengan para anak-buahnya pemimpinnya tinggal bilang, ‘itu bukan job saya untuk meyelesaikan’. Kalau dia tipe pemimpin yang baik hati mungkin dia akan membuat devisi khusus untuk menampung unek-unek anak buahnya. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan kepemimpinan tradisional. Dulu ketika seorang warga ada maslah – entah dalam hal apa, baisanya dalam hal apapun – warga tersebut akan ‘ngudo roso’ kepada pemimpin disitu. Bisa pak RT, pak RW bahkan pak lurah. Pemimpin tradisional dituntut mempunyai wawasan yang sangat luas, mulai dari manajemen rumit sampai dengan persoalan kasur di rumah tangga. Untuk menjadi seperti itu tentunya harus mempunyai pola pikir yang jelas dan luas. Tentu dengan dasar yang baik juga….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *