KSATRIAN PANDU TRISULA

Begundal rimba juga melankolis (Sastra)

Alangkah damai malam ini kawan
Menikmati secangkir coklat panas Cemilannya cuk, mie kremes mentah seperti yang sudah-sudah
Sembari jigang-mekangkang menghirup dalam-dalam kabut yang menyusup
Remang-remang kulihat termometer menunjukkan angka 5°celcius
Mulai dingin, menusuk sendi-sendi yang semakin rapuh
Mematikan saraf-saraf kaki yang lecet

Dari jauh sana, dari arah punggungan sebelah sayup-sayup kudengar suara
Halusinasi? Bisa jadi
Tapi tak apakah aku turuti ini

Terlelap aku dalam duduk tafakur ini
Melangkahkan kaki mendekati suara itu
Semakin dekat, semakin semakin jelas
Semakin masuk dalam diriku sendiri
Semakin khusuk dalam perjalanan ku ini

Kusadari, lelapku adalah bangunku
Aku terlelap tapi sebenarnya aku baru terbangun terjaga

Semakin jelas suara itu terdengar
Wirid mukswa sang giri sejati
Gema doa gunung-gunung bagi pendaki sunyi
Yang men-sunyi-kan pendakiannya,
Yang tiap beban dalam ranselnya adalah penebusan dosanya
yang tiap langkahnya adalah sembahyangnya,
Yang tiap hembusan nafasnya adalah syukurnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *